Corona Masuk Waroeng Kopi


-->

Iklan Utama

Corona Masuk Waroeng Kopi

_Pimred
Sabtu, 29 Mei 2021

Opini : Mustafa A Geulanggang 

Sekitar pukul 10 malam itu Lahuda Seukeum singah Kota Lhoseumawe, pulang dari Kuala Simpang, Aceh Tamieng. Kelihatan berapa caffe (waroeng kopi)  berhemburan pengunjung caffe  keluar. Rupanya petugas gabungan razia masker lagi periksa warga yang tidak pakai masker. Ada anggota  TNI, Polisi, Satpol dan petugas kesehatan lengkap denga alat tes swebnya. 

Tanpa babibu, petugas kesehatan terus berraksi mereka tanpa masker dimasukan  sesuatu benda ke dalam lubang hidung untuk kepentingan tes vovid 19. "Ada juga yang terpapar gejala corona. Kebanyak nigatif," kata salah seorang petugas kepada Lahufa sekeum.

 Bukan hanya mala gerakan pengusir covif 19 dikota bekas petro dolar itu. Kalau sang hari, selain anggota TNI dan Polisi ditambah juga angita BPBD yang tergabung tim terpadu sebagai tenaga  mengusir corona yang bersembunyi dibawah meja caffe, tumpukan sampah dan parit sekitar keramain kota Lhoksemawe.

Besok malamnya Lahuda Seukem singah di Kota Juang Bireuen. Selesai shalat Insya Lahuda kepingin minum kupi pancong dengan beberapa temannya. Ee..ee...beberapa caffe yang tergolong ramai sudah dipasang layar kain hitam. "Kenapa ditutup  caffe ini," tanya Lahuda pada Bang Joi salah seorang tokoh muda kota itu.

Rupanya pukul 11 malam semua cafe harus tutup di kota Juang. Bila ada pemilik caffe yang membandel ditindak tegas,  dinilai melawan  pemerintah. Bisa saja dikena sangsi pidana, seperti Habib Rizik di Jakarta karena dilai berkumpul. "Rawan covid," kata Bang Joi mengutip komentar petugas razia masker.

Lahuda Seukeum pun  mencari waroeng kupi sekitar kepingir pusat kota. Kata Joi, ada waroeng Bang Cut  Lem arah barat kota. Kopinya enak, duduknya nyaman. "Puhaba Bang Lem. Nyo poh padum netup kede," tanya Joi pada pemilik waroeng kupi ini.

"Hai Joi. Masa konplik mantong 24 jem kede nyo ku buka. Nyo jino hana takira pih meubacut," jawab Bang Cut Lem dalam bahasa Aceh yang juga didengar oleh Lahufa Seukem cs. Artinya : masa konplik saja waroeng Bang cut lem buka 24 jam. Apa lagi era ini tidak menjadi ancaman baginya.

Dalam perjalanan ke Banda Aceh Lahuda Seukeum melihat beberapa caffe sudah dipasang garis atau pita poloce line dari petugas. "Kenapa caffe ini disegel," tanya Lahuda Seukeum pada Pang Badai kawan seperguruan Lahuda Seukeum di Banda Aceh.

Menurut Pang Badai, ada beberapa Caffe yang main kucing-kucingan denga petuas razia. Sehingga lolos dari ancaman segel petugas. Cerita Pang Badai misalnya bos caffe main mata dengan petugas masker. Sebelum sampe sasaran cafe yg dituju. Oknum petugas sudah tlp pemilik caffe utk segera matikan lampu tutup pintu. "Nyan ban,"  hai Tgk Lahuda.

Atau ada juga pemilik caffe  yang buka 24 jam. Caranya pas puku 11.30 lampu luar dan lampu dibawah kanopi dimatikan. Tapi didalam ful pengunjung caffe tanpa tertedeksi dari petugas razia masker. Sehingga pengunjung kaffe bubar pukul 03 dinihari. 

Tiori tutup pintu depan caffe ketika ada petugas razia masker. Sama juga pengalaman Lahuda Seukeum dan orang-orang lain suatu hari minum kopi di caffe kawasanUleekareng Banda Aceh, ketika suara di kumandangkan dimasjid Jamik Ulekareng petugas caffe buru-buru nutup.pinyu caffe. Tapi yang minum kopi tetap minum kopi yang kemasjud juga ada.

"Apa hubungan dengan carona hai Tgk Lahuda Seukeum," tanya Pang Badai. 

Dari pengalaman ini, kata Lahuda Seukeum. Kepada Pang Badai, jangan kan petugas tim razia masker berhasil dikelabui dengan cara tutup pintu depan saja. Kadang-kadang kita lihat juga pangilan azanpun berlalu saja. Padahal pemilik caffe istirat nutup.pintu drpan. 

Nah, disinilah butuh kesriusan dan keiklasan dan kejujuran untuk brantas corona. "Bek lage anek mit meuen rimung kameng."  Begitu pesan Lahuda Sekeum kepada Pang Badai dkk.