Bireuen — Di saat rakyat masih berjibaku dengan himpitan ekonomi, kebijakan pembatasan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) justru hadir seperti menambah beban di pundak yang sudah rapuh.
Rasyidi mantan kombatan GAM yang juga Ketua Karang Taruna Kecamatan Jeumpa, melontarkan kritik keras terhadap kebijakan tersebut.
Ia menilai, langkah mempersempit akses JKA bukan hanya keliru, tetapi berpotensi melukai akar kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
“Saya dulu berperang untuk ini, untuk JKA, supaya masyarakat sejahtera. Kalau hari ini masyarakat tidak sejahtera, untuk apa kami dulu berjuang?” tegas Rasyidi dengan nada emosional.
Menurutnya, JKA bukan sekadar program kesehatan, melainkan buah dari perjuangan panjang yang dibayar mahal oleh rakyat Aceh. Karena itu, setiap upaya untuk “mengerdilkan” JKA sama saja dengan mengingkari semangat perjuangan tersebut.
“Ini bukan sekadar kebijakan. Ini menyangkut harga diri perjuangan. Kalau JKA dikerdilkan, berarti cita-cita yang dulu kami perjuangkan sedang dipersempit,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi nyata masyarakat yang semakin tertekan secara ekonomi. Dalam situasi seperti sekarang, kata dia, JKA menjadi satu-satunya sandaran bagi banyak warga untuk bertahan.
“Masyarakat itu tidak pakai JKA kalau tidak terpaksa. Kalau sakit ringan, cukup beli obat di warung. Tapi kalau sudah parah, baru mereka datang. Jadi yang pakai JKA ini benar-benar orang yang butuh,” jelasnya.
Rasyidi menilai, alasan keterbatasan anggaran tidak bisa dijadikan pembenaran untuk membatasi hak dasar masyarakat.
“Kalau alasan anggaran, saya tidak yakin. Kita sama-sama tahu banyak anggaran yang justru membengkak tanpa kejelasan. Jangan sampai rakyat dikorbankan karena ada yang bermain di dalamnya,” ucapnya tajam.
Ia mengingatkan, jika kebijakan seperti ini terus dipaksakan, dampaknya bukan hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga bisa mengguncang stabilitas sosial dan perdamaian Aceh.
“Kalau JKA terus dikerdilkan, ini bukan lagi soal kesehatan. Ini soal kepercayaan. Perdamaian Aceh bisa benar-benar di ujung tanduk. Jangan salahkan rakyat kalau kepercayaan itu hilang,” katanya.
Dalam pernyataan yang penuh emosi, Rasyidi juga menyampaikan pesan langsung kepada pemimpin Aceh saat ini.
“Saya tidak pernah meminta jabatan apa pun. Tapi hari ini saya minta kepada Mualem, panglima kami dulu, perjuangkan kembali cita-cita kita saat masih di hutan. Jangan biarkan rakyat hari ini merasa ditinggalkan,” tegasnya.
Ia menutup dengan peringatan keras bahwa kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil berpotensi merusak fondasi damai yang telah dibangun.
“Perdamaian ini tidak lahir dengan mudah. Jangan biarkan keserakahan merusaknya. Kalau JKA dilemahkan, yang terancam bukan hanya kesehatan rakyat, tapi masa depan Aceh itu sendiri,” pungkasnya.(*)