Menembus Stigma, Merajut Solidaritas: Kehidupan Mahasiswa Papua di Kota Toleransi Yogyakarta

Adsense

Peunawa

Iklan Berjalan

Iklan Slide

Menembus Stigma, Merajut Solidaritas: Kehidupan Mahasiswa Papua di Kota Toleransi Yogyakarta

Aduen Alja
12/31/2025



Peunawa.com |Yogyakarta menjadi salah satu kota yang sering di kunjungi dan disebut sebagai kota pelajar dan sering disebut sebagai kota toleransi yang kuat dan menyimpan ironi yang mendalam bagi Sebagian besar warganya, khususnya para mahasiswa papua yang datang untuk menuntu ilmu di kota Yogyakarta.

Kajian Antropologi Perkotaan menyatakan bahwa di tengah dinamika kehidupan urban, kelompok mahasiswa papua ini justru menjadi sasaran empuk bagi stigma dan diskriminasi negative yang berkembang luas di masyarakat local. Stereotip yang di sering muncul seperti: Suka bikin Ribut, kacau, mabuk, suara besar, bahkan Asosiaso negative lainhya seringkali diletkan secara kolektif.

Dampak Stigma dan Diskriminasi
Stigma ini berakar kuat dan membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan mahasiswa papua sehari-hari, hal ini menjadi alasan yang selalu mereka hadapi di kota Yogyakarta dan dampak yang paling sering dirasakan adalah:

Kesulitas Mendapat tempat tinggal: mereka sering ditolak oleh pemilik kontrakan atau kos-kosan karena adanyan stereotip negative yang sering muncul dan memaksakan mereka untuk memili tinggal di asrama dari daerah asal.

Isolasi Sosial: Stereotip ini menghambat interaksi yang hermonis dengan masyarakat umum, ini menyebabkan banyak mahasiswa papua cenderung menarik diri atau hanya berinteraksi dalam kelompok mereka sendiri.

Rasa cemas dan ketidakpastian: Perlakuan diskriminatif yang sering muncul, membuat mereka kadang diperkuat oleh insiden kekerasan atau rasisme di kalangan masyarakat, ini menimbulkan kecemasan mendalam bagi mahasiswa papua untuk bisa lebih beradaptasi dan menjalani kehidupan perkulihan nereka.

Sering mengalami Rasis: Tindakan yang selalu dialami oleh mahasiswa papua Ketika mereka berada di tempat umum, pasti akan ada pertanyaan rasis yang sering muncul karena memiliki waran kulit, rambut, dan Bahasa yang beda membuat kita mengalami secara langsung.

Pembangunan Solidaritas Internal
Menghadapi tekanan sosia dan diskriminasi ini, solidaritas menjadi mekanisme pertahanan utama bagi mahasiswa papua yang ada di kota Yogyakarta. Kajian ini menunjukkan bahwa solidaritas yang terbentuk melalui beberapa cara yaitu:
Pengalaman Bersama: Pengalaman menjadi korban diskiriminasi atau stigma secara kolektif menjadi perekat kuat yang menyatukan mereka.

Organisasi Formal: Solidaritas berkembang menjadi system organisasi formal yang kuat, seperti Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAP), yang berfungsi sebagaiwadah untuk mereka konsolidasi, dukungan emosional, dan pertahanan diri.

Pengawasan Internal: Bahkan, ada upaya internal yang dilakukan untuk mengendalikan diri dan memberikan teguran kepada sesame anggota yang mungkin sering bertindak di luar norma dan demi melawan stereotip negative yang sudah melekat pada diri mereka.

Peran Komunikasi Antarbudaya
Untuk mengatasi masalah ini, peran komunikasi dan interaksi antarbudaya yang intensif sangat penting. Bagi mereka. Jika mahasiswa papua terus membentuk kelompok esklusif dan masyarakat local terus memelihara stereotip, lingkaran diskriminasi dari kedua belah pihak:
Pihak mahasiswa papua: Beradaptasi, berpartisipa aktif dalam setiap kegiatan sosial masyarakat, dan menunjukkan perilaku positif untuk mendpbrak stereotip.

Masyarakat local: Membuka diri, menanggalkan prasangka yang digeneralisasi, dan mengenali mahasiswa papua sebagai individu, bukan sebagai representasi dari stereotip negatif.
Secara studi Antropologi, kasus ini menunjukkan bahwa predikat toleransi disebuah kota tidak selalu terefleksikan secara dalam dan praktik sosial sehari-hari.

Membangun Yogyakarta sebagai kota yang benar-benar inklusif sehingga membutuhkan upaya kolektif untuk bisa membongkar prasangka dan merajut kembvali jalinan komunikasi yang setara antara warga local dan mahasiswa papua yang berada di kota Yogyakarta.

Artikel ini ditulis Oleh : 
Marselius Aronggear
(Magister Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada)