Peunawa.com |Bireuen - Jaringan Aneuk Syuhada (JASA) Kecamatan Peudada memperingat keras seluruh pemangku kepentingan agar tidak memperkeruh keadaan dengan isu-isu provokatif di tengah masyarakat yang masih dalam masa pemulihan pascabencana banjir besar di Aceh.
Menurut Bukhari, situasi pascabencana saat ini adalah fase paling sensitif. Kekurangan pangan, rumah yang rusak, serta berbagai persoalan sosial lain masih menumpuk. Karena itu, setiap informasi yang salah atau dibesar-besarkan dapat memicu kepanikan dan perpecahan antarwarga.
“Saat masyarakat sedang terpuruk, jangan ada yang menambah beban dengan menyebarkan provokasi. Ini masa pemulihan, bukan masa memperjualbelikan isu,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa skala kerusakan yang terjadi bukanlah kecil. Infrastruktur banyak yang hancur, kebutuhan logistik mendesak, dan ribuan keluarga masih menunggu bantuan serta kepastian perbaikan.
“Ini bencana besar, kerusakan massif. Tidak ada proses pemulihan yang instan, anggaran menjadi kendala utama”, ujarnya Jum'at (16/02/2026) malam.
Bukhari mengatakan baik keuchik maupun bupati tidak bisa bekerja maksimal tanpa dukungan anggaran memadai. Banyak kebutuhan pemulihan menunggu alokasi dana dari pemerintah pusat.
“Hebat sekalipun pimpinan daerah bekerja, tanpa anggaran cukup tetap tidak akan berjalan. Pusat memegang peranan besar,” katanya.
Menurut Bukhari distribusi logistik dilakukan berdasarkan data dan verifikasi lapangan, bukan asal bagi rata atau berdasarkan tekanan pihak tertentu.
Ia menyeru semua pihak agar menjaga ucapan di depan masyarakat. Bukhari juga menolak keras tindakan yang memancing amarah, memperkeruh suasana, atau memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi maupun politik.
“Jangan jadi provokator, jangan jadi penyebar keresahan. Tugas kita membantu korban, bukan menciptakan masalah baru,” tegasnya mengakhiri. (*)
