Peunawa.com l Bireuen — Pelayanan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bireuen kembali menuai kecaman keras dari para keuchik. Layanan dianggap “mati total”, tidak transparan, dan tidak memiliki kepastian waktu. Bahkan, berbagai upaya dialog yang dilakukan sebelumnya dinilai tidak menghasilkan apa pun.
Keuchik Kaisar menegaskan bahwa kondisi ini sudah mencapai titik kritis dan tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan biasa.
“Kami sudah berkali-kali mencoba jalur dialog, tetapi tidak ada kepastian dari mereka. Jawaban tidak jelas, jadwal berubah-ubah, dan pegawainya seperti tidak mau membuka komunikasi. Ini pelayanan publik atau pelayanan pribadi?” tegasnya.
Ia menilai BPN Bireuen menunjukkan pola kerja yang tidak profesional, arogan, dan seakan berdiri di atas aturan sendiri.
“BPN ini seperti tidak punya arah. Masyarakat datang—ditolak. Ditanya progres—menghilang. Koordinasi dengan Pemda saja macet. Kalau seperti ini, bagaimana desa bisa menjelaskan ke masyarakat?” lanjutnya.
Menurut Kaisar, ketidakpastian layanan ini membuat perangkat desa mendapat tekanan dari warga, sementara BPN tidak pernah memberikan klarifikasi atau timeline penyelesaian berkas.
Ia menilai APDESI Bireuen harus mengambil posisi tegas.
“Saya minta APDESI pimpin aksi besar. Tidak ada pilihan lain. Kalau dibiarkan, BPN semakin semena-mena. Kita datang baik-baik tidak dianggap, jadi kita harus tunjukkan kekuatan masyarakat desa,” ujarnya.
Kaisar juga menyebut integritas sebagian pegawai BPN patut dipertanyakan.
“Kalau tidak punya kapasitas melayani, jangan bekerja di instansi publik. Masyarakat datang bukan untuk disulitkan. Mereka butuh kepastian, bukan drama birokrasi,” tegasnya.
APDESI Bireuen dikabarkan segera menggelar pertemuan internal untuk menyikapi gelombang protes ini dan memutuskan langkah resmi menghadapi stagnasi pelayanan di BPN.(*)