Pesantren Ummulqura Antarabangsa Bireuen Jalin Kerja Sama Strategis dengan IKDAR Malaysia

Adsense

Peunawa

Iklan Berjalan

Iklan Slide

Pesantren Ummulqura Antarabangsa Bireuen Jalin Kerja Sama Strategis dengan IKDAR Malaysia

7/31/2026



Peunawa.com |Bireuen — Pesantren Ummulqura Antarabangsa Bireuen, Aceh, semakin memantapkan posisinya dalam membangun jejaring pendidikan Islam bertaraf internasional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Institut Kemahiran Islam Darul Ridzuan (IKDAR), Malaysia.

Agenda penting tersebut berlangsung di Meeting Room Pesantren Ummulqura Antarabangsa pada Rabu, 29 Juli 2026 M (14 Safar 1448 H). Penandatanganan MoU ini menjadi tonggak sejarah baru dalam memperkuat kolaborasi pendidikan, riset, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) lintas negara antara Indonesia dan Malaysia.

Dokumen kerja sama strategis ini ditandatangani langsung oleh Pimpinan Pesantren Ummulqura Antarabangsa Bireuen, Abiya Prof. Dr. H. Saifullah, S.Ag., M.Pd., bersama Rektor IKDAR Malaysia, Prof. Dr. Muhammad Faizal bin Tahiruddin.

Kolaborasi kedua institusi sepakat untuk merajut sinergi dalam berbagai bidang utama, yang meliputi Pogram pertukaran santri internasional, Intensifikasi pelatihan bahasa asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris), Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan dan Pengembangan sumber daya manusia dan pertukaran staf pengajar serta pelaksanaan penelitian serta publikasi ilmiah bersama.

Kemitraan ini dirancang untuk membangun ekosistem pendidikan Islam yang unggul dan adaptif terhadap dinamika global, guna melahirkan generasi muslim yang berkarakter, berwawasan internasional, serta berdaya saing tinggi di tingkat regional hingga global.

Momentum bersejarah ini turut disaksikan langsung oleh jajaran pimpinan teras dari kedua belah pihak.

Dari pihak IKDAR Malaysia hadir Prof. Madya Dato' Haji Muhammad Asri bin Abdullah (Pengurusi Lembaga Pengarah Institusi), Tuan Syed Mohammad bin Syed Zakaria (Penasehat Undang-Undang), Dr. Ahmad Muzammil bin Mohammad Shapawi (Ketua Jabatan Hal Ehwal Antarabangsa), Puan Siti Norlina binti Samad (Pengarah IKDAR Cawangan Taiping) dan Datin Norraziah binti Mohm Zamzam.

Sementara dari Pesantren Ummulqura Antarabangsa Bireuen hadir Waled Qamar Syafawi, M.Pd. (Direktur Pesantren), Ustadz Syaukani, S.Pd. (Kepala MA Ummulqura Indonesia), Ustadz Islahul Umam (Wakil Kepala MA Ummulqura Indonesia), Muhibuddin, S.Pd. (Kepala SMP Islam Ummulqura Indonesia), Dr. Dhiauddin, M.Pd. (Direktur Ummulqura Antarabangsa Periode 2018–2023), Dr. Diana, M.Pd. (Ketua Komite Pesantren), Hj. Fauzah, S.KM. (Ketua UKS) dan Tina Levia, S.Pd., M.Pd. (Direktur Pengembang Kurikulum Trilogi Studies) serta seluruh jajaran staf pengajar Pesantren Ummulqura Antarabangsa Bireuen.


Dalam sambutannya, Abiya Prof. Dr. H. Saifullah, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan pengejawantahan dari visi besar pesantren untuk menghadirkan pendidikan Islam yang berkualitas, modern, dan berorientasi global tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan pesantren.

"Kolaborasi dengan IKDAR Malaysia akan membuka lebih banyak peluang bagi para santri dan tenaga pendidik untuk memperoleh pengalaman akademik lintas negara, meningkatkan kompetensi bahasa asing, memperluas jejaring penelitian, serta memperkuat ukhuwah antara lembaga pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara," ungkap Abiya Saifullah.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa kemitraan ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar hubungan kelembagaan. Aceh dan Malaysia diikat oleh akar sejarah, budaya, dan peradaban Melayu yang sama selama berabad-abad. Kedekatan bahasa, adat istiadat, serta nilai-nilai sosial ini menjadi modal kuat untuk mempererat kembali ikatan rumpun Melayu.

Selain aspek budaya, hubungan kedua wilayah juga disatukan oleh ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam). Sejak masa awal penyebaran Islam di Nusantara, jaringan keilmuan antara ulama Aceh dan Semenanjung Melayu telah melahirkan banyak pusat peradaban berpengaruh.

Abiya Saifullah juga mengingatkan kembali eratnya dimensi historis dan geografis antara Aceh dan Malaysia. Dalam catatan sejarah, Kesultanan Aceh Darussalam pernah memegang peran strategis dalam dinamika kawasan, termasuk mendukung wilayah-wilayah di Semenanjung Melayu. Letak geografis yang sama-sama berada di jalur strategis Selat Malaka turut memperkuat keterkaitan perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan sejak masa lampau.

Dengan fondasi sejarah, agama, budaya, and geografis tersebut, MoU ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya program-program kolaboratif yang memberikan dampak nyata, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dan Malaysia sebagai pusat pengembangan pendidikan Islam di tingkat dunia.