Antara Tugas Moral dan Hiburan Dangkal, Mengulik Tren Guru Berjoget Demi Konten

Adsense

Peunawa

Iklan Berjalan

Iklan Slide

Antara Tugas Moral dan Hiburan Dangkal, Mengulik Tren Guru Berjoget Demi Konten

6/05/2026

Oleh: Robi Sugara, S.Pd

Ruang kelas yang sejatinya menjadi tempat terhormat untuk menuntut ilmu kini perlahan mulai bergeser fungsi. Media sosial yang kian digandrungi ternyata membawa perubahan besar pada perilaku di lingkungan sekolah. Salah satu fenomena yang belakangan ini kerap kita saksikan adalah maraknya video guru yang asyik berjoget demi tren jagat maya, bahkan dengan melibatkan murid yang masih berseragam.


Alasan pembuatan konten ini biasanya agar guru terlihat gaul dan bisa membangun kedekatan dengan siswa. Namun, jika batasannya tidak dijaga, tindakan ini justru mengorbankan profesionalisme. Ketika seorang pendidik menurunkan sekat kewibawaannya demi mengejar popularitas digital, rasa hormat siswa di dalam kelas perlahan bisa mengikis.


Tantangan moral ini menjadi jauh lebih besar dalam konteks wilayah seperti Aceh. Sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai agama, Syariat Islam, dan kearifan lokal, profesi guru di Aceh memikul tanggung jawab sebagai teladan akhlak. Standar kesopanan yang berlaku menuntut para pendidik untuk senantiasa menjaga muruah diri, baik di dunia nyata maupun dunia maya.


Oleh karena itu, larut dalam tren joget yang kurang pantas jelas mencederai nilai kesopanan dan tatanan adat yang dihormati. Ruang kelas berisiko menyempit fungsinya menjadi sekadar panggung hiburan pribadi. Guru seharusnya menjadi filter moral bagi anak didik, bukan justru ikut larut dalam arus budaya internet yang kurang mendidik.


Tentu hal ini tidak bermaksud membuat kita bersikap kaku, sebab guru yang kreatif memang sangat dibutuhkan saat ini. Namun, kreativitas tersebut semestinya lahir dari kesadaran untuk menciptakan metode pembelajaran yang inovatif dan edukatif. Media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk membagikan ilmu, bukan untuk mengejar popularitas yang menggadaikan kehormatan profesi.


Pada akhirnya, marwah ruang kelas harus dikembalikan dan dijaga dari dalam diri pendidik itu sendiri sebagai tempat suci untuk mencerdaskan generasi bangsa. Demi fokus pada esensi pengabdian yang sesungguhnya. Tentu saja, ini adalah pandangan pribadi saya, jadi pandangan ini bisa jadi berbeda dengan pandangan orang lain.