BIREUEN — Peunawa.Com SMAN 2 Bireuen terus mendorong peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya dengan menggelar program pengembangan literasi, numerasi, sekaligus pelatihan jurnalistik bagi para siswa.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September, tersebut dipusatkan di Aula SMAN 2 Bireuen. Pesertanya terdiri dari pengurus OSIS serta perwakilan dari masing-masing kelas.
Selama kegiatan, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai literasi, numerasi, teknik dasar jurnalistik, penulisan berita, wawancara, hingga pentingnya kemampuan memverifikasi informasi di tengah derasnya arus informasi digital.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber yang aktif di bidang jurnalistik di Kabupaten Bireuen, yakni Fadli, S.Pd., M.Pd., Gr. dan Yusri, S.Sos., M.Sos., yang juga merupakan Ketua DPD SWI Bireuen. Ditemui media saat sedang berlangsung pelatihan pada Rabu, (30/9/26).
Saat membuka kegiatan, Kepala SMAN 2 Bireuen, Hasan Basri, S.Pd., M.M., mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius dan aktif menyerap materi yang disampaikan para narasumber.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan menulis, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis serta keterampilan memilah informasi.
“Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu menyaring informasi dan menangkal berita bohong atau hoaks di era digital. Mereka juga akan belajar teknik dasar penulisan berita, artikel dan opini, termasuk teknik melakukan wawancara,” ujar Hasan Basri.
Ia mengatakan, kemampuan jurnalistik juga dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas melalui pengelolaan majalah dinding (mading), buletin maupun portal berita digital sekolah.
“Kegiatan ini juga diharapkan menumbuhkan kesadaran literasi digital dan tanggung jawab sosial. Pada akhirnya, kita berharap lahir jurnalistik sekolah yang menjadi wadah bagi pelajar untuk menyampaikan aspirasi, gagasan dan kreativitas mereka,” katanya.
Hasan Basri menambahkan, capaian yang ingin dibangun melalui pelatihan tersebut adalah terbentuknya generasi siswa yang memiliki budaya literasi, mampu berpikir kritis (critical thinking) serta cakap berkomunikasi.
“Pelatihan jurnalistik bukan sekadar kegiatan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa mendapatkan keterampilan yang bermanfaat untuk masa depan, terutama dalam berkomunikasi, menulis, mengolah informasi dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab,” ungkapnya.
Jurnalistik Bekali Siswa Hadapi Banjir Informasi
Sementara itu, salah seorang narasumber, Yusri, S.Sos., M.Sos., mengatakan keterampilan jurnalistik merupakan bagian penting dari kompetensi literasi media.
Menurutnya, kemampuan menulis sekaligus memverifikasi informasi menjadi semakin penting di tengah maraknya penyebaran informasi yang belum tentu benar.
“Dengan memahami prinsip-prinsip jurnalistik, pelajar diharapkan dapat menjadi pengguna media yang cerdas dan beretika,” kata Yusri usai kegiatan.
Ia menjelaskan, jurnalistik sekolah tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis menulis berita, tetapi juga dapat melatih kemampuan analisis siswa terhadap berbagai persoalan sosial di lingkungannya.
Pelajar yang aktif dalam kegiatan jurnalistik, kata Yusri, memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kepercayaan diri, empati serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Jurnalistik sekolah bukan hanya mengajarkan bagaimana menulis, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran dalam menyampaikan informasi kepada publik. Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk membentuk generasi muda yang kritis, komunikatif dan bertanggung jawab dalam bermedia,” jelasnya.
Yusri juga menuturkan, berdasarkan observasi awal, kemampuan siswa dalam penulisan jurnalistik dan pengelolaan publikasi media sekolah masih perlu terus dikembangkan.
Hal tersebut antara lain terlihat dari kemampuan teknis penulisan, seperti penyusunan struktur berita, penerapan unsur 5W+1H, pemilihan sudut pandang penulisan, pemahaman terhadap etika jurnalistik serta nilai berita.
Kondisi tersebut, lanjutnya, turut memengaruhi optimalisasi media sekolah sebagai sarana informasi, pembelajaran dan pengembangan kreativitas siswa.
“Karena itu, diperlukan upaya yang sistematis, aplikatif dan berkelanjutan dari pihak sekolah untuk memperkuat kompetensi jurnalistik siswa,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi dapat dilanjutkan dengan pembentukan dan pengembangan jurnalistik sekolah.
Dengan demikian, siswa memiliki ruang untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh sekaligus menjadikan media sekolah sebagai sarana belajar, berkreasi dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, "tegasnya. ( samsul )