BIREUEN —Peunawa.Com Suasana berbeda menyelimuti halaman SMA Negeri 1 Samalanga pada Jumat pagi (9/10/2026). Bukan sekadar upacara bendera biasa, hari itu para siswa dan guru berkumpul untuk sebuah misi besar: menjaga kewarasan dan kedamaian di lingkungan pendidikan.
Di tengah gempuran arus informasi digital yang tak terbendung, sekolah ini mengambil langkah tegas dengan menggelar sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, hingga Nihilistic Violent Extremism (kekerasan ekstrem tanpa motif jelas).
Acara yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan ditutup dengan doa, Acara ini tak
Kalah penting, agenda ini juga menjadi deklarasi perang terhadap bullying atau perundungan.
Kegiatan ini Mengusung tema “Sekolah Damai Tanpa Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme, dan Nihilistic Violent Extremism,” acara ini menjadi sinyal kuat bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu akademik, melainkan benteng pertahanan karakter anak bangsa.
Kehadiran "Pengawal" Keamanan Negara, Yang membuat kegiatan ini menjadi istimewa adalah kehadiran narasumber istimewa, kehadiran IPTU Juliadi, S.H., Katim Pencegahan Densus 88 AT Polri Satgas Wilayah Aceh.
Kehadiran satuan elite antiteror Polri di tengah-tengah siswa SMA memberikan bobot serius pada pesan yang disampaikan. IPTU Juliadi tidak hanya berbicara teori, tetapi membedah bahaya laten ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Ia mengajak para siswa untuk kritis dan waspada terhadap paham yang memecah belah persatuan, serta menjauhkan diri dari tindakan kekerasan yang mengatasnamakan apapun.
"Kita harus memahami bahwa nilai kebangsaan dan kemanusiaan adalah harga mati. Tidak ada ruang bagi ekstremisme di hati dan pikiran generasi muda," pesan yang tersirat dalam materi yang disampaikan.
"Sekolah Bukan Sekadar Pabrik penghasil Nilai"
Kepala SMA Negeri 1 Samalanga, Zulfadli,S.Pd.I.M.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan hari ini tidak boleh lagi buta terhadap realitas sosial. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara sekolah dengan, pemerintah, Dinas Pendidikan Aceh (Kesbangpol dan Cabang Dinas Pendidikan), serta aparat keamanan (Polsek Samalanga).
“Kegiatan ini adalah instruksi Kepala Dinas Pendidikan sekaligus bentuk tanggung jawab moral kita. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai di atas kertas, tapi rumah bagi pembentukan karakter yang toleran dan saling menghargai,” ujar Zulfadli.
Bagi Zulfadli, mencegah radikalisme adalah tentang menjaga masa depan anak-anak agar tidak tersesat dalam jalan kekerasan, sementara mencegah bullying adalah tentang menjaga kesehatan mental dan rasa aman mereka setiap hari.
Zona Nyaman Tanpa Perundungan
Selain ancaman ideologis, ancaman fisik dan psikologis berupa bullying juga menjadi sorotan utama. Sosialisasi ini membuka mata para siswa bahwa perundungan—baik itu pukulan fisik, ejekan verbal, hingga cyberbullying di media sosial—adalah kejahatan yang harus dilawan.
Sesi diskusi dan tanya jawab menjadi momen yang hidup. Para siswa diberi keberanian untuk bersuara, melaporkan, dan saling melindungi.
Sekolah ingin menegaskan bahwa lingkungan pendidikan haruslah menjadi zona nyaman (safe zone), tempat di mana setiap siswa merasa dihargai, bukan ditakuti, "ungkapnya.
Harapannya sederhana namun mulia Lahirnya generasi muda Bireuen yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental, toleran dalam perbedaan, dan berani menolak segala bentuk kekerasan. Sinergi antara sekolah, orang tua, dan Densus 88 Polri ini menjadi contoh nyata bahwa menjaga kedamaian bangsa dimulai dari langkah kecil di ruang-ruang kelas, "pungkasnya. ( samsul )