Dua Guru Besar Pulmonologi Dijadwalkan Ke Banda Aceh


Adsense

Peunawa

Iklan Berjalan

Iklan Slide

Dua Guru Besar Pulmonologi Dijadwalkan Ke Banda Aceh

19/07/22



Peunawa.com | Banda Aceh - Mulai Jumat (22/07/2022) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Aceh akan mengelar workshop tata laksana gagal napas bertempat di Auditorium RSUD dr Zainoel Abidin. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Pertemuan Ilmiah Respirasi Aceh (PIRA) yang dilaksanakan setiap tahun. 

Acara PIRA tahun ini adalah pertemuan ilmiah ke-8 seluruh dokter ahli paru Aceh dan diikuti oleh ratusan dokter umum dengan mengusung tema “Maintaining Respiratory Health Troughout Pandemic”. Tema tersebut berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan pernapasan menyusul masa pemulihan pandemi Covid 19 dan peningkatan kapasitas kemampuan  dokter di Aceh untuk memberikan pelayanan tatalaksana terkini terhadap kasus-kasus penyakit paru dan saluran pernapasan.

Salah satu keynote speaker yang akan memberikan pelatihan bagi dokter di Aceh Adalah guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yaitu Prof.Dr.dr.Faisal Yunus,Sp.P(K),FISR,FAPSR. Beliau adalah salah satu tokoh ilmu kedokteran nasional yang telah banyak berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia khususnya dalam bidang Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi.

Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Sp.P (K), FCCP , menamatkan pendidikan S1 Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta pada tahun 1976. Pendidikan S2 Post Graduate Course Bagian Penyakit di Fakultas Kedokteran Universitas Hiroshima, Jepang pada tahun 1983. Beliau mendapatkan gelar S3 Ijazah Dokter (Ph D) dan Spesialis Penyakit Paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Hiroshima, Jepang. Saat ini, beliau menjadi guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Beliau pernah menjabat Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Ketua Dewan Asma Indonesia (DAI).

Keynote speaker yang kedua adalah guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Nahdatul Ulama Surabaya, yaitu Prof.Dr.dr.Mulyadi, Sp.P(K),FISR,FAPSR. Pria yang berasal dari Pantai Barat Selatan Aceh ini adalah salah satu tokoh ilmu kedokteran Aceh yang telah banyak berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan pendidikan kedokteran di Aceh khususnya dalam bidang Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Sikap Beliau yang ramah dan sederhana selalu dirindukan kehadirannya oleh murid-muridnya di Aceh. 

Beliau pernah menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala selama dua periode. Prof Muliadi termasuk perintis yang berjasa terhadap pengembangan beberapa program studi pendididikan dokter spesialis di Aceh. Setelah sukses sebagai Dekan di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Beliau hijrah ke tanah Jawa, dan diangkat menjadi Guru Besar di Universitas Nahdhatul Ulama Surabaya.

Prof. Dr. Mulyadi, dr. Sp.P (K), FISR, adalah guru besar pertama Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. 

Presentasi ilmiah Beliau saat pengukuhan guru besar berjudul “Tantangan Pendidikan Dokter Serta Rumah Sakit Pendidikan dalam Pandemi Covid-19”. Hal tersebut berangkat dari kepedulian Beliau terhadap pendidikan kedokteran di Indonesia terutama saat-saat pandemi. Menurutnya, kompetensi seorang dokter secara sederhana dapat dipilah dalam beberapa kategori yakni, harus diketahui (must know), sebaiknya diketahui (should know), dan baik untuk diketahui (nice to know). 

Guru besar kelahiran, Trieng Meduro, Sawang, Aceh Selatan, pada 19 Agustus 1962 ini mengatakan, para pendidik kedokteran diharuskan untuk menggunakan sistem berbasis teknologi dan simulasi melalui daring. 

“Ini merupakan tantangan sekaligus pertaruhan. Mengingat prinsip utama dalam pendidikan kedokteran, prinsip pengajaran klinis ideal yang tidak dapat digantikan adalah tidak ada guru yang lebih baik selain pengalaman langsung menghadapi pasien,” katanya. 

Selain itu beberapa saran yang disampaikan suami dari Dr. Arti Lukitasari, dr.,Sp.M ini menjadi pertimbangan bagi penyedia layanan pendidikan kedokteran, dalam menggunakan simulasi dan inovasi teknologi selama pandemi seperti kuliah daring, simulator virtual webcasting, diskusi ruang daring, yang bertujuan menghasilkan seorang dokter yang  sesuai dengan panduan pendidikan dokter Indonesia. 

Pertemuan Ilmiah Respirasi Aceh (PIRA) merupakan agenda yang dilaksanakan setiap tahun oleh PDPI Aceh bekerjasama dengan IDI Aceh, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dan RSUD dr. Zainoel Abidin. 

"Kegiatan ilmiah ini menghadirkan narasumber nasional dan ikuti oleh seluruh dokter paru Aceh yang terhimpun dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Aceh serta Dokter Umum yang berasal dari berbagai Kabupaten/ Kota se Aceh", sebut dr Ferry Dwi Kurniawan Sp.P(K) yang juga sebagai ketua PDPI Aceh.

Ketua Panitia PIRA VIII, dr.Irmaini,MPH.,Sp.P(K)mengajak seluruh dokter umum dan dokter Spesialis di Aceh untuk ikut dalam Pertemuan Ilmiah respirasi Aceh (PIRA VIII) yang akan dilaksanakan selama dua hari pada Tanggal 22-23 Juli 2022 di Banda Aceh. Kegiatan Ilmiah ini akan dibagi dalam dua jenis acara, yaitu simposium dan workshop.

Workshop akan dilaksanakan pada Jumat 22 Juli 2022 bertempat di Auditorium RSUD dr.Zainoel Abidin Banda Aceh, sedangkan acara Simposium akan dilaksanakan Sabtu 23 Juli 2022 bertempat di hotel Kyriad Muraya banda Aceh. 

Bagi para dokter yang ingin menambah ilmu dan keterampilan dalam bidang tatalaksana penyakit paru dan gawat napas dapat melakukan registrasi dan menghubungi kontak person PIRA VIII yaitu dr,Rina Marlena di nomor hand phone 081360071548.(*)