Dahlamuddin Nahkodai APDESI Jeumpa

Adsense

Peunawa

Iklan Berjalan

Iklan Slide

Dahlamuddin Nahkodai APDESI Jeumpa

2/22/2026

Bireuen – Tidak ada tarik-ulur kepentingan. Tidak ada voting yang memecah barisan. Pemilihan Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Jeumpa, Sabtu malam, 21 Februari 2026, langsung mengerucut pada satu keputusan bulat: satu nama, satu suara.


Tanpa perdebatan panjang, para keuchik sepakat menetapkan Dahlamuddin—Keuchik Gampong Blang Mee—secara aklamasi sebagai Ketua APDESI Kecamatan Jeumpa. Keputusan itu menjadi penegasan bahwa soliditas lebih penting daripada ambisi pribadi.


Musyawarah tersebut turut dihadiri Ketua APDESI Kabupaten Bireuen, Bahrul Fazal SH, Camat Jeumpa Rusli Sos, unsur Kapolsek dan Danramil, serta Ketua BKAD Jeumpa. Kehadiran unsur pimpinan daerah menegaskan bahwa arah kepemimpinan APDESI Jeumpa akan menjadi sorotan dalam dinamika pembangunan desa ke depan.


Dalam sambutannya, Bahrul Fazal SH menyampaikan pesan yang bukan hanya simbolik, tetapi mengandung peringatan moral. Ia mengingatkan bahwa Jeumpa adalah tanah dengan sejarah gemilang Raja Jeumpa—warisan yang tak boleh dikerdilkan oleh ego sesaat.


“Jeumpa ini penuh sejarah gemilang. Kita semua adalah cucu Raja Jeumpa. Jangan ada di antara kita saling merebutkan mahkota, karena mahkota itu milik kita bersama,” tegasnya.


Namun ia menambahkan kalimat yang lebih tajam. “Jangan berbicara tentang mahkota. Hari ini kita berbicara tentang kepentingan masyarakat dan desa. Jika rakyat belum sejahtera, maka mahkota itu hanya simbol tanpa makna,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi garis keras: APDESI bukan arena gengsi dan bukan tempat membangun pengaruh pribadi. Ia harus berdiri di garis depan ketika desa menghadapi tekanan regulasi, persoalan anggaran, maupun konflik sosial yang berpotensi memecah masyarakat.


Dahlamuddin, Keuchik Blang Mee yang kini dipercaya memimpin, menyadari bahwa aklamasi bukan akhir, melainkan awal ujian.“Amanah ini bukan kemenangan pribadi. Ini tanggung jawab kolektif. Jika kita bersatu, desa kuat. Jika kita terpecah, masyarakat yang menjadi korban,” katanya lugas.


Aklamasi memang mengirim pesan kuat tentang kekompakan. Namun sejarah Jeumpa tidak dibangun oleh simbol, melainkan oleh tindakan. Kini publik menanti: apakah satu nama dan satu suara itu benar-benar akan berubah menjadi satu keberpihakan nyata bagi gampong dan masyarakat.(*)