Dua Ibu di Jagong Jeget Kritik Menu MBG, Dinilai Jauh dari Kata Bergizi

Adsense

Peunawa

Iklan Berjalan

Iklan Slide

Dua Ibu di Jagong Jeget Kritik Menu MBG, Dinilai Jauh dari Kata Bergizi

2/10/2026

TAKENGON – Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa di Kecamatan Jagong Jeget mendapat kritik dari orang tua murid. Dua ibu rumah tangga, Ainol Mardiah dan Nadrah Rizky, menilai makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka belum memenuhi standar gizi sebagaimana tujuan program.

Ainol Mardiah mengatakan, menu MBG yang diterima anaknya kerap jauh dari konsep makanan bergizi. Menurutnya, menu seperti yang diterima hari ini bukan kejadian sekali, melainkan sering diberikan.

“Kalau disebut makan bergizi, menurut saya masih sangat jauh. Menu seperti hari ini sering didapatkan anak saya, yaitu telur, roti, susu kemasan, buah apel. Tidak ada sayur dan tidak ada variasi makanan sehat lainnya,” kata Ainol, Senin (9/2/2026).

Ia menilai menu tersebut lebih menyerupai makanan praktis dibandingkan makanan yang disusun berdasarkan kebutuhan gizi anak.

“Anak-anak butuh asupan yang layak untuk tumbuh kembang, bukan hanya makanan kemasan. Kami juga berharap anak-anak jangan sering diberikan susu kemasan,” ujarnya.

Selain itu, Ainol mengeluhkan kualitas buah yang dibagikan kepada anak-anak. Menurutnya, masih ditemukan buah yang tidak layak konsumsi.

“Makanan yang dibagikan harus benar-benar layak makan. Jangan sampai buah yang diberikan sudah busuk. Seharusnya disortir dengan benar sebelum dibagikan, karena mereka memiliki karyawan di sana,” katanya.

Ia menambahkan, kritik tersebut disampaikan sebagai perwakilan para ibu di Kecamatan Jagong Jeget yang selama ini memilih diam. “Kami ini mewakili ibu-ibu di Jagong Jeget yang takut bersuara,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Nadrah Rizky. Ia menilai penyusunan menu MBG belum menunjukkan perhitungan gizi yang matang. 

“Programnya bagus, tapi pelaksanaannya perlu dikritik. Kalau menunya seperti ini dan sering diberikan, itu belum bisa disebut menu bergizi. Ini lebih seperti asal mengisi perut, bukan memenuhi kebutuhan gizi anak,” katanya.

Keduanya berharap pihak pelaksana program MBG di Kecamatan Jagong Jeget, khususnya ahli gizi yang terlibat, dapat melakukan evaluasi terhadap komposisi menu dan kualitas bahan makanan.

“Ahli gizinya perlu mengkaji kembali standar menu yang diberikan kepada anak-anak, supaya program ini benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan anak,” tambah Nadrah. [Robi S]