peunawa.com | BIREUEN — H. Mukhlis menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan nasib korban bencana hidrometeorologi di wilayah Bireuen. Hal tersebut disampaikan langsung saat ia menemui para pengunjuk rasa pada Senin (6/4/2026).
Aksi unjuk rasa tersebut diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari korban banjir, penyandang disabilitas, hingga organisasi masyarakat sipil yang menyuarakan keprihatinan terhadap penanganan dampak bencana di daerah itu.
Dalam pertemuan yang berlangsung terbuka, Bupati Mukhlis bersama seluruh Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) menyatakan keseriusan pemerintah daerah untuk terus hadir di tengah masyarakat terdampak. Ia menegaskan bahwa upaya penanganan bencana tidak hanya berhenti pada bantuan darurat, tetapi juga berlanjut pada pemulihan jangka panjang.
“Kami berkomitmen untuk terus berjuang bersama masyarakat, terutama para korban bencana hidrometeorologi. Pemerintah tidak akan tinggal diam,” ujar Mukhlis di hadapan para pendemo.
Suasana dialog berlangsung dinamis, namun tetap kondusif. Aspirasi yang disampaikan menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan dan langkah penanganan ke depan.
Menariknya, pada sore hari yang sama, komitmen tersebut langsung diwujudkan dalam aksi nyata yang menyentuh hati.
Masih di hari yang sama, Mukhlis menyerahkan satu unit rumah layak huni kepada lima anak yatim piatu dalam satu keluarga di Gampong Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa.
Rumah yang dibangun dari dana pribadi tersebut menjadi tempat berteduh baru bagi anak-anak yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Di balik dinding sederhana berwarna cerah, tersimpan harapan yang kembali tumbuh.
Senyum haru terpancar dari wajah-wajah kecil mereka saat menerima kunci rumah. Bagi mereka, ini bukan sekadar bantuan, tetapi awal kehidupan yang lebih layak dan penuh harapan.
Tangan yang saling berjabat dalam prosesi penyerahan menjadi simbol nyata kepedulian. Kehadiran sang bupati di tengah masyarakat, baik saat menerima aspirasi maupun memberikan bantuan langsung, memperlihatkan pendekatan kepemimpinan yang humanis.
Rumah tersebut kini menjadi lebih dari sekadar bangunan. Ia adalah pelukan hangat bagi anak-anak yang kehilangan, tempat berlindung dari kesedihan, sekaligus titik awal untuk menatap masa depan yang lebih cerah.
Langkah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial. Di tengah berbagai ujian kehidupan, kisah ini menjadi pengingat bahwa harapan akan selalu ada ketika kepedulian dan aksi nyata berjalan beriringan.

