BIREUEN – Kabar menggembirakan datang dari Kabupaten Bireuen, khususnya bagi warga yang bermukim di bantaran Sungai Krueng Peudada. Proyek pembangunan tanggul dan bangunan pengaman tebing sungai tersebut dipastikan akan rampung lebih awal dari jadwal kontrak yang telah ditetapkan.
Keuchik Gampong Meunasah Baroh, Kecamatan Peudada, H. Masrul Saifuddin, mengungkapkan bahwa progres pengerjaan saat ini sudah mencapai 70 persen. Dengan capaian tersebut, struktur utama berupa dinding penahan tanah (retaining wall) diperkirakan sudah berdiri kokoh.
"Proyek ini sangat krusial. Sebelumnya, tebing di sini mengalami abrasi dan rusak parah akibat diterjang banjir tahun lalu. Kini, dengan adanya proyek ini, masyarakat merasa terlindungi dari risiko erosi, luapan air, dan ancaman terhadap pemukiman serta infrastruktur," ujar Masrul saat ditemui di kediamannya, Sabtu (12/9/26).
Keterlibatan Masyarakat dan Kepedulian Sosial Rekanan
Proyek bernilai kontrak Rp 23,5 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) Tahun Anggaran 2026 ini dikerjakan oleh PT Citra Sarana Teknik di bawah pengawasan PT Putra Andespal Perkasa. Panjang area pengerjaan mencakup 700 meter, membentang dari Gampong Meunasah Baroh hingga perbatasan Gampong Meunasah Tambo.
Masrul juga menyoroti dampak positif sosial dari proyek ini. Pihak rekanan dinilai sangat peduli terhadap lingkungan sekitar. Selain melibatkan warga lokal dalam proses pekerjaan sesuai kemampuan mereka, perusahaan juga rutin menggelar kegiatan sosial.
"Pihak rekanan cepat tanggap terhadap aspirasi warga. Mereka bahkan beberapa kali mengadakan kenduri dan termasuk mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa di lokasi proyek. Ini bentuk kepedulian yang sangat kami hargai," jelasnya.
Saya sebagai Geuchik gampong meunasah Baro mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Aceh dan Dinas terkait, serta pihak rekanan telah menyelesaikan Proyek Tanggul dan Bangunan Pengaman Tebing Sungai Krueng Peudada, dengan selesainya proyek ini , seluruh masyarakat disekitar bantaran sungai dapat terlindungi dari abrasi ketika banjir datang melanda. Disamping itu juga kebun milik masyarakat yang berada di sepanjang bantaran sungai juga ikut terlindungi," ungkapnya.
"Dengan selesainya proyek ini, kebun milik masyarakat di sepanjang bantaran juga ikut terlindungi. Kami berharap Pemerintah Aceh dapat melanjutkan pembangunan pengaman tebing ini pada tahun depan hingga ke daerah Aneuk Gajah Rheut Krueng Peudada," harap Masrul mewakili warga Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peudada.
Dari sisi teknis, Khalik, pengawas lapangan dari perusahaan pelaksana, menjelaskan bahwa proyek ini menggunakan teknologi geotekstil untuk memperkuat struktur. Geotekstil berfungsi sebagai lapisan filtrasi dan separator yang mencegah tanah di belakang tumpukan batu hanyut terbawa arus, sementara batu gunung bertindak sebagai pelindung utama.
"Kami sangat teliti dalam penyusunan batu menggunakan alat berat (excavator). Kerapian dan penguncian (ankuran) ujung-ujung geotekstil di bagian atas dan bawah tebing sangat penting agar tidak merosot. Rongga antar batu juga diisi dengan batu belah kecil atau mortar agar struktur tidak goyang," paparnya.
Ditambahkan Meski progres fisik sudah signifikan, ada satu permintaan krusial dari masyarakat terkait integritas jangka panjang proyek, yaitu pembangunan saluran pembuang atau box koper (buis beton) saluran kotak.
Saluran ini berfungsi mengalirkan air dari daratan menuju sungai secara terarah, sehingga tidak mengikis area belakang tebing (backfill). Selain itu, saluran ini vital untuk mengurangi tekanan hidrostatis air tanah yang berpotensi memicu keretakan atau kelongsoran jika air tersumbat.
Penyelesaian proyek ini diharapkan tidak hanya melindungi fisik tanah dari bencana, tetapi juga membangun rasa aman dan mendorong stabilitas perekonomian warga di sepanjang bantaran sungai, " tutupnya.